Mamahaha no Tsurego ga Motokano datta - Side Story 2 Bahasa Indonesia

 


Pasangan itu saling memberi hadiah. “……Aku ingin mati……”


“……White Christmas, ya.”

“Ah…… Aku yakin aku tidak akan melupakan pemandangan ini seumur hidupku.”

“Karena aku ada di sampingmu?”

“Apa kau pikir begitu?”

“Aku akan marah kalau tidak.”

“Kalau begitu kau bisa tenang.”

“Bodoh.”

――Sambil mengucapkan hal-hal semacam itu, aktor dan aktris di dalam televisi saling berciuman.

Meskipun jarang dinyalakan, di rumah kami juga ada televisi. Kebanyakan digunakan saat jam makan malam, dan hanya sebagai pengganti musik latar.

Dari empat anggota keluarga, aku dan Yume adalah kutu buku sejati, jadi yang menyalakan televisi biasanya adalah ayah atau Yuni-san.

“Ah~ah. Melihat yang seperti ini, aku jadi merasa agak kesepian, deh.”

Sambil melihat ciuman dalam dan intens antar aktor yang mustahil dilakukan oleh amatir, Yuni-san berkata disertai helaan napas.

“Setiap tahun menjelang Natal, aku hampir mati karena tenggat akhir tahun. Hanya memikirkan tanggal 25 Desember saja membuatku sedih. Dulu, aku bersemangat sekali, lho~.”

“Hahaha. Meskipun kita merasa hati kita akan tetap muda selamanya, pada saat-saat seperti ini, ya. ……Ah, tapi, mungkin Mizuto dan Yume-chan masih akan mengalaminya mulai sekarang, ya?”

Jleb.

Karena perkataan Ayah, gerakan sumpitku dan Yume sejenak terhenti.

“Kalau kalian punya pacar, jangan sungkan-sungkan pada kami, ya~! Yah, sepertinya Mizuto tidak bisa terlalu diharapkan, tapi Yume-chan pasti banyak yang suka!”

“Fufufu. Anak ini sudah banyak mengubah penampilan, lho~? Sampai beberapa saat lalu dia itu anak yang sangat culun—”

“ibu……”

Sambil menegur ibunya dengan lembut, Yume melirik sekilas padaku.

Untuk apa kau memberiku peringatan? Aku tidak akan bicara, bahkan tanpa kau katakan.

Yuni-san tertawa kecil dan menopang pipinya dengan tangan di meja.

“Duh, tapi, aku menantikannya, ya. Kapan, ya, Yume dan Mizuto-kun mulai tidak ada di rumah saat Natal?”

“Kalau saat itu tiba, Yuni-san, mari kita kembali ke masa muda kita.”

“Ufufu. Begitu, ya. Itu juga menyenangkan, ya~. Kita harus membuat mereka berdua lebih bersemangat lagi.”

……Ayah dan Yuni-san tidak tahu.

Sebenarnya, aku dan Yume pernah sekali tidak ada di rumah saat Natal.

Tanpa disadari oleh orang tua yang tinggal bersama kami, hanya kami berdua yang tahu tentang kejadian di bawah langit yang dingin itu.

Itu terjadi saat kami kelas dua SMP.

Itu adalah Natal pertama setelah aku dan Ayai Yume mulai berpacaran.

***

“――Aku pulaang~! Mizutooo, aku belikan kue~!”

Aku adalah Irido Mizuto. Seorang siswa kelas dua SMP yang punya pacar. Aku bagian dari kelompok ‘pemenang’. Hari ini, pada hari Natal ini, aku adalah orang yang berada atas atas sebagian besar pria di dunia.

Namun, mengapa?

Saat ini, sama seperti tahun lalu, aku sedang makan kue kecil yang entah dibeli di minimarket mana bersama ayahku.

Jika nilai-nilai yang menganggap Natal harus dihabiskan bersama kekasih adalah evolusi ala Galapagos di Jepang, maka ini bisa dibilang sebagai bentuk Natal yang benar.

……Tapi. Tapi, ya.

Aku merasa tidak puas. Bukankah Natal dengan pacar itu seharusnya lebih istimewa?

“Gimana, enak? Kue cokelatnya.”

“……Lumayan.”

“Sini, coba kasih aku sedikit. Aku juga akan memberimu sepotong shortcake punyaku.”

Bukankah seharusnya pertukaran ini kulakukan dengan pacarku, Ayai Yume? Mengapa……

……Tidak, aku mengerti. Aku tahu. Kami masih SMP, dan lagi pula kami menyembunyikan hubungan kami dari orang-orang. Mustahil bagi kami untuk bisa keluar di malam hari ke tempat yang mewah dan romantis.

Itu sebabnya, kami sudah bertemu dengan benar di siang hari. Kami pergi ke tempat yang sudah mengalunkan “Jingle Bells Jingle Bells” selama sekitar sebulan, dan berbaur dengan banyak pasangan lainnya.

Dan setelah itu, kami bubar begitu saja.

Itu sangat biasa.

Tidak jauh berbeda dengan saat kami pulang sekolah bersama seperti biasa――aku juga tahu alasannya.

Ah, tertawalah. Tertawalah sepuasnya.

Aku, si Pengecut tak tertandingi di bawah langit, tidak bisa memberikan hadiah yang sudah susah payah kusiapkan untuk hari ini, karena aku jiper di saat-saat terakhir!

Kotak dengan bungkus kado yang kupinta pada pegawai toko dengan memberanikan diri, kini menjadi pajangan di meja kamarku.

Aku ingin mati.

“Hm, ada apa Mizuto? Kenapa mood-mu rendah sekali? ……Ah, hadiahnya! Nih, aku sudah menyiapkannya dengan benar, lho~! ――Kartu perpustakaan!”

Aku ingin mati.

***

“……Aku ingin mati……”

Aku, yang bernama Ayai Yume, sedang menundukkan kepala di meja kamarku sendirian, dan tersiksa oleh keinginan untuk mati.

Bukannya ingin mati, tapi aku sudah mati. Aku sudah mati. Terima kasih atas dukunganmu selama ini.

“Kenapa harus begini…… Aku selalu, selalu…… Tidak peduli seberapa saksama aku mempersiapkannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa di saat-saat penting…… Aku benci ini……”

Di atas meja ada kotak yang sudah dibungkus kado.

Itu adalah hadiah untuk Irido-kun, yang kusiapkan untuk hari ini.

Aku bermaksud memberikannya saat kencan Natal di siang hari, pada saat yang tepat. Tapi sekarang masih ada di tanganku. Jadi, itulah maksudnya.

Kencan itu sendiri sangat menyenangkan. Kami berdua pergi ke tempat-tempat yang terasa seperti pasangan, yang biasanya tidak kami kunjungi, dan aku benar-benar merasakan perasaan yang sangat terlambat, yaitu, ‘Uwaa~! Kami benar-benar pacaran~!’

Tapi, justru karena itu, atau apalah.

Di kepalaku hanya terlintas pikiran bahwa jika aku melakukan sesuatu yang salah, suasana baik ini akan hancur, atau perasaan senang ini akan berantakan…… dan pada akhirnya, kencan berakhir tanpa aku memberikan hadiah itu.

“Uuuh……”

Aku merasa ingin menangis.

Aku selalu begini. Hampir tidak ada hal yang berhasil kulakukan dengan baik saat aku mencoba melakukan sesuatu. Satu-satunya yang berhasil adalah saat aku menembak Irido-kun……

……Kalau aku terus begini, jangan-jangan suatu hari nanti dia akan kehilangan kesabaran, ya……

“Yume~? ibu mandi duluan, ya~?”

Tepat ketika aku hampir menangis sungguhan, suara ibu terdengar.

……Oh, ya. Mandi.

Setelah mandi, sudah jadi kebiasaan untuk mengobrol dengan Irido-kun lewat telepon.

Saat itu, jika aku bisa bilang, ‘Sebenarnya aku punya hadiah, nanti akan kuberikan, ya’!

“Ba…… Baguslah……!”

Jika sudah begitu, jangan tunda lagi.

Tepat ketika aku hendak menjawab ibu bahwa aku ingin mandi duluan, ponsel di atas meja mulai membunyikan lagu Barat lama.

“…………!?”

Itu adalah lagu tema dari film yang sangat direkomendasikan Irido-kun untuk kutonton, sebelum kami mulai berpacaran.

Itu sebabnya lagu ini hanya berbunyi saat dia menelepon.

Aku buru-buru meraih ponselku.

Kemudian, dengan hati-hati aku menggeser ‘Terma’ agar tidak salah memutus sambungan.

“――Y-ya. Halo……?”

‘……Ayai.’

Suara yang paling ingin kudengar saat ini terdengar.

Meskipun ini saja sudah membuatku sangat senang, Irido-kun melanjutkan dengan mengatakan sesuatu yang tak terduga.

‘Bisakah kau keluar ke balkon?’

***

Sambil menatap napas putih yang larut di udara, jendela kamar Ayai terbuka.

Ayai menjulurkan tubuhnya dari balkon dan menyadari diriku yang berada di depan apartemen, lalu mengeluarkan suara mengerang melalui receiver ponsel.

‘A-a, a, a…… k-kena…… pa……?’

“Tidak, itu…… Hanya saja, ini Natal, jadi……”

Aku malu. Aku ingin mengelak.

Tapi tahan. Bukankah hari ini boleh-boleh saja? Tanpa perlu bersikap keren. Tanpa perlu mencari alasan.

“……Aku ingin melihat wajahmu…… sekali lagi.”

‘……Uh! ~~~~Kh!!’

Di seberang ponsel, Ayai mengeluarkan suara tanpa kata.

A-apa? Ada apa? Dia terlihat seperti baru saja merasakan kehadiran Penguasa Lama.

Saat aku kebingungan, sambungan terputus dengan bunyi putus.

Bersamaan dengan itu, Ayai, yang sempat muncul di balkon, masuk kembali ke dalam kamar.

“……Ah~ah……”

Ternyata dia menganggapku aneh……

Ya, memang begitu, ya…… Jika aku tiba-tiba datang di malam hari tanpa pemberitahuan apa pun, meskipun aku pacarnya, dia pasti akan merasa risih, ya……

Aku ingin mati.

Kalau aku terus berdiri di sini dengan bengong, aku bisa mati kedinginan, tidak, ya……

“――I…… Irido-kun!!”

Saat aku sedang tersiksa oleh keinginan untuk mati seperti Dazai Osamu, ada bayangan seseorang yang berlari kencang dari pintu masuk apartemen.

Eh?

“A…… Ayai?”

Ayai berlari di atas trotoar yang dingin, dan mengatur napasnya sambil berulang kali mengembuskan napas putih.

Sambil bertumpu pada lutut dan bahunya naik turun, dia menatap wajahku dan tersenyum malu-malu.

“A…… Ahaha. K-Kau…… datang, ya?”

***

“Tidak…… Itu, seharusnya kalimatku,”

Irido-kun membalas dengan nada tenang.

Tapi, setelah itu, tubuhnya tetap kaku, jadi mungkin dia sangat terkejut.

“……Aha.”

Aku sedikit senang.

Aku berhasil membalas keterkejutanku tadi.

Aku merasa tidak sabar menunggu lift, jadi aku berlari menuruni tangga, makanya butuh waktu beberapa saat sampai napasku kembali normal. Setelah akhirnya melepaskan tangan dari lutut, aku tersenyum malu-malu sekali lagi.

“E…… Ehehe. Kebetulan ibu baru saja mandi, jadi…… Aku keluar, deh, memanfaatkan kesempatan itu.”

“Ah…… aku mengerti. Begitu, ya……”

“Jadi, itu…… ya. Aku hanya bisa bersamamu…… sekitar 30 menit, mungkin.”

“30 menit, ya…… Begitu.”

Meskipun kami berdua memang tidak banyak bicara, hari ini kami terutama sangat canggung.

Namun, aku sangat, sangat senang bisa melakukan percakapan seperti ini, yang tidak ada tawa sama sekali, yang menjengkelkan dan lambat.

Ah…… Irido-kun juga menganggap hari ini istimewa, ya.

Dia menghargai waktu ini bersamaku, ya……

Karena dia adalah orang yang jarang menunjukkan perasaannya, aku sangat tertarik pada emosi yang sesekali terlihat.

Seperti, meskipun dia terlihat hanya tertarik pada dirinya sendiri, sebenarnya dia cukup perhatian dan baik hati.

Atau, meskipun dia selalu terlihat tenang dan stabil, sebenarnya dia diam-diam sedang panik.

Aku sudah mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit sisi asli Irido-kun yang sesekali terlihat. Kusimpan dengan hati-hati di album hati, dan kulihat berkali-kali setelahnya――waktu seperti itu sangat menyenangkan, sampai-sampai duniaku, yang hanya mengenal membaca buku sebagai hiburan, benar-benar terbalik.

Itu sebabnya, aku――

“――Kutsshiin!”

Tubuhku menggigil, dan aku bersin.

Eh? ……Ah, benar.

“……Aku lupa pakai jaket……”

Setelah menyadarinya, tiba-tiba menjadi dingin.

Aku terlalu terburu-buru…… Uuuu, padahal ini waktu yang berharga, mengapa aku selalu begini pada saat-saat penting……

“Hei hei, ceroboh sekali.”

Irido-kun tersenyum kecut seolah terheran, lalu melepaskan ikatan mantel yang sedang ia kenakan.

“Nih.”

Sambil berkata begitu, Irido-kun menyampirkan mantel yang dilepasnya di bahuku.

Hangat……

Tapi, rasanya seperti sedang dipeluk oleh Irido-kun, jadi aku sedikit malu. Kalau boleh jujur, dia boleh saja memelukku biasa, lho? ――Perasaan seperti itu pun terlintas, dan aku jadi semakin malu. Siapa aku ini? Dari sudut pandang mana aku bicara?

Aku menghela napas lega karena suhu tubuhku naik karena berbagai penyebab……

“……Kalau begini, Irido-kun jadi kedinginan, dong?”

“Tidak, aku tidak apa-apa.”

Irido-kun berkata dengan santai, tetapi reaksi tubuhnya tidak bisa dibohongi. Bahunya sedikit menggigil.

Apa yang harus kulakukan……

Saat aku berpikir, ide yang muncul di benakku adalah rencana dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Saking tingginya, sepertinya lebih mudah merangkak di bawahnya. Tidak, tidak, tapi, kali ini…… karena ini Natal.

……Karena ini Natal!

Kekuatan luar biasa dari tiga kata itu mendorongku si pengecut. Terima kasih, Yesus Kristus. Itu adalah hal yang ajaib bagiku, sampai-sampai aku ingin pindah agama ke Kristen.

“K-Kalau begitu…… Itu……,”

Meskipun aku merasakan wajahku memerah, aku menyerahkan diriku pada kekuatan Natal dan terus maju sampai akhir.

“M…… Mau kita pakai bareng?”

***

Ternyata bisa juga dipakai berdua.

Aku dan Ayai berbagi satu jaket mantel dengan cara menyampirkannya di bahu kami, lalu duduk di pinggir tanaman semak.

Bahu kami bersentuhan di dalam jaket, dan Ayai sedikit tersentak kaget, tapi setelah beberapa saat, dengan hati-hati ia menyandarkan berat badannya.

...Ringan.

Tapi, hangat.

Dan wangi.

Aku berada dalam kondisi langka di mana aku merasa lega sekaligus detak jantungku meningkat. Tapi, menunjukkan niat tersembunyi sekarang hanya akan merusak semuanya. Aku menahan diri untuk tidak membiarkan ekspresiku melonggar, pura-pura menatap langit malam tanpa tujuan.

Ayai terkikik.

"...Ada apa?"

"Bukan apa-apa. ...Hanya berpikir, pacarku ini manis sekali."

Ugh. ...Ketahuan.

Padahal baru saja dia terlihat panik, tiba-tiba dia menunjukkan sikap santai...

Saat aku terdiam dan mencoba menutupi rasa malu, Ayai bergerak panik menggerak-gerakkan tangannya.

"Ah... A-Apakah kamu marah!? M-Maaf, ya...?"

"Tidak, aku tidak marah. Hanya sedikit malu saja. ...Tidak perlu terlalu khawatir begitu."

"B-Begitu...?"

"Jika itu dirimu—"

Aku ragu sejenak, tapi kemudian membuang rasa malu itu.

Ini kan Natal.

"—apapun yang kamu lakukan, aku tidak akan marah..."

Ujung kalimatku melemah, terasa sedikit menyerah pada suasana hati. Itu membuatnya semakin memalukan, jadi aku memalingkan wajah.

Lalu.

"...Hehe. Hehehe. Hehehehehehe..."

Terdengar suara tawa malu-malu yang gembira, dan beban di bahuku bertambah besar.

Tampaknya dia menyukainya. Syukurlah. Aku sempat khawatir kalau-kalau itu tidak bagus.

Aku membiarkan diriku merasakan kehangatan yang nyaman di bahuku dalam keheningan selama beberapa saat. Dua hembusan napas putih keruh naik sebentar-sebentar lalu menghilang ke udara malam.

"...Ano, ne... Irido-kun."

Aku menundukkan pandangan ke arah suara itu, dan Ayai menatapku dengan mata menyelidik, melihat ke atas dengan mata mendongak.

"Ada sesuatu yang ingin... kuberikan."

Jantungku berdebar.

...Begitu. Ayai juga, sudah menyiapkannya, ya.

"kamu tidak akan marah dengan apa yang aku lakukan... 'kan? Kalau begitu, kamu akan menerima... hadiahku juga, 'kan...?"

Kata-kata yang diucapkan dengan kurang percaya diri, yang semakin menghilang setiap kali diucapkan.

Setiap kali aku melihat Ayai yang seperti ini, aku berpikir, tidak perlu sesungkan itu. Ayai sama sekali tidak bodoh, kemampuan olahraganya juga tidak buruk, dan lagipula... wajahnya juga, menurutku, manis.

Jika dia bersikap biasa, pasti dia akan punya banyak teman—namun, kurangnya rasa percaya diri yang entah dari mana asalnya itu menjauhkan orang-orang di sekitarnya.

"...Ayai."

"Fue...?"

Aku memasukkan tangan ke saku tanpa bicara, lalu mengeluarkan kotak yang dibungkus kado dari dalamnya.

Melihat itu, Ayai mengedipkan mata berulang kali.

"A-eh... i-itu... apa?"

"Hadiah Natal. ...Siang hari, akhirnya aku tidak bisa memberikannya karena terlalu gugup."

"...Eh...?"

Ayai menatapku dengan wajah terkejut selama beberapa saat—setelah itu,

"—Pfft! Aha! Hahahaha! Ahahahahaahahah...!!"

Dia tertawa kecil dan tergelak dengan suara yang manis.

Aku merasa sedikit kesal.

"Tidak perlu tertawa selebar itu, 'kan..."

"M-Maaf...! Soalnya, begini... aku tidak menyangka Irido-kun juga melakukan hal yang sama."

"Berarti, Ayai juga, ya."

"Ya."

Ayai juga mengeluarkan kotak kado yang dibungkus dari sakunya dan menunjukkannya padaku.

Melihat itu, tawaku juga muncul, dan kami berdua tertawa bersama, bahu kami bergoyang.

Rasa dingin yang menusuk pipi dan telinga entah sejak kapan sudah tidak terasa lagi.

Setelah selesai tertawa, Ayai menyeka air mata yang membasahi sudut matanya, dan menutupi mulutnya dengan hadiahnya sendiri.

"Kalau begitu... kita tukar, yuk."

"Ya. Kita tukar."

Kami saling bertukar kotak kecil yang hanya dihias sedikit rapi itu. Hanya itu saja, yang seharusnya bukan apa-apa, tapi terasa seperti sebuah upacara khidmat.

Kotakku berpindah ke tangan Ayai, dan sebagai gantinya, kotak Ayai mendarat di tanganku.

Aku melihat bagian depan, melihat bagian belakang, dan kembali melihat bagian depan, lalu aku tidak bisa menahan diri.

"Boleh kubuka?"

"Eh? ...D-Di sini?"

"Kau juga boleh buka punyaku."

"...M. Kalau begitu..."

Kami serentak melepaskan pita merah dengan suara syurur.

Bukan berarti kami belum pernah memberi hadiah sebelumnya. Tapi, semua yang kami tukar selama ini hanyalah barang-barang praktis. Hanya hadiah-hadiah aman yang tidak perlu dikhawatirkan akan ditolak.

Tapi, hadiah hari ini berbeda.

Itu bukan barang praktis.

Itu adalah hadiah yang tidak praktis, berisiko, yang mungkin menyulitkan untuk digunakan... hadiah yang tidak akan punya keberanian untuk diberikan kecuali oleh sepasang kekasih.

"...Ah..."

Ayai yang membuka kotak, mengeluarkan suara pelan.

"Ini... liontin?"

Di dalam kotak kecil itu terdapat liontin, di mana bunga berwarna merah muda tersegel di dalam bola kaca transparan.

Tentu saja, itu bukan barang mahal karena dibeli dengan uang jajan anak SMP. Apalagi, aku yang biasanya tidak punya hubungan dengan aksesori, memeras otak untuk mencari ide, dan menjelajahi internet untuk menemukannya, jadi sejujurnya aku tidak tahu apakah itu imut atau indah. Tapi—

Ayai mengangkat liontin itu di depan matanya.

"Hebat... Di dalam kaca ada bunga. ...Bunga apa namanya ini?"

"...Baby's breath. Aku suka arti bunganya."

"Arti bunga..."

Tak butuh waktu lama, Ayai langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari.

Aku panik.

"Ba...!! Tunggu! Jangan lakukan itu, aku malu tahu...!"

"Eh? Boleh dong?"

Ayai tertawa sambil membungkuk melindungi ponselnya, dan membaca hasil pencarian, "E-etto..."

"'Perasaan seperti mimpi', 'Hati yang murni', 'Daya tarik', 'Kepolosan'..."

"...Sebenarnya, itu."

Aku menyerah dan mengakui.

"............Yang sering dipakai di buket pernikahan."

"...Eh."

Ayai sekali lagi menunduk melihat liontin itu, wajahnya memerah bahkan di malam hari.

...Apa-apaan ini. Seperti melamar saja...!

Wajahku juga tiba-tiba terasa panas. Seharusnya aku memilih yang lebih aman saja!

"...N-Nanti."

Saat aku tersiksa oleh penyesalan, Ayai dengan lembut melepaskan pengait liontin itu, dan sambil menyingkirkan rambutnya, melingkarkannya di lehernya.

"yak... Sudah. ............Bagaimana, menurutmu?"

Liontin yang kubeli dan kuberikan, kini tergantung di dada Ayai.

...Ah. Ah, ah—entah perasaan apa ini.

Lebih dari sekadar bahagia, rasanya geli—perasaan semacam pencapaian terus memancar.

"Aku jarang pakai yang begini, jadi tidak tahu apakah cocok atau tidak..."

"itu cocok."

Aku mengatakannya dengan jujur tanpa berpikir.

"Cocok. Serius. Benar-benar. ............Manis."

"Eh? ...Y-Ya... terima kasih."

Ayai mengalihkan pandangan karena malu, dan senyum tipis mengembang di bibirnya.

Ekspresi itu membalas semua waktu yang kuhabiskan untuk memikirkan dan mencari hadiah, bahkan lebih dari cukup.

"...Kalau begitu, giliranku juga harus membukanya sekarang."

"Ah...! Y-Ya!"

Di depan Ayai yang menatapku dengan ekspresi tegang, aku juga membuka kotak hadiahku.

Di dalamnya ada—

"—......Ah."

"Hehe... Ternyata kita sehati, ya."

...Kalung.

Ketika kuangkat, ada hiasan berbentuk bulu tergantung di talinya.

"Sebenarnya, aku tidak punya alasan seindah Irido-kun, sih... Tapi, itu bulu, atau pena bulu."

"Pena bulu?"

"E-etto, itu..."

Ayai ragu-ragu dengan mata yang berkeliling sejenak, lalu berkata seolah sudah membulatkan tekad.

"............Aku suka melihat Irido-kun menulis coretan di buku catatan saat belajar untuk tes, atau semacamnya."

".............................."

Aku terdiam selama beberapa detik, mencoba memahami kata-katanya.

"............kau punya fetish seperti itu juga?"

"A-uugh...!! E-eto, itu bukan fetish, tapi aku hanya suka secara pribadi saja...!!"

Bukankah itu yang namanya fetish?

Ayai menunduk dan terlihat sedih.

"Ugh... Maaf, mengatakan hal yang menjijikkan..."

"Kau cepat sekali minta maaf, ya."

Sambil berkata begitu, aku mengenakan kalung yang dia berikan.

"Nih."

Melihatku mengenakan hadiah itu, ekspresi Ayai yang tadinya muram berubah dengan cepat.

Melihat wajahnya yang terlihat menahan rasa geli, aku menyeringai.

"Ini luar biasa, ya. Bertukar Hadiah Natal."

"Ya, ya...! Entah... entah kenapa luar biasa!"

Kami berbagi kesan yang sangat kurang spesifik, dan kembali tertawa cekikikan.

Setelah itu, kami menghabiskan beberapa puluh menit di bawah langit yang dingin, berbicara hal-hal yang tidak penting.

Tidak ada iluminasi.

Tidak ada salju romantis yang turun.

Hanya semak-semak di depan kondominium yang diterangi remang-remang oleh lampu jalan dan cahaya dari rumah penduduk.

Meskipun demikian, waktu yang hanya sesaat dibandingkan dengan satu hari itu, terukir kuat di hatiku.

"...Kalau begitu, sampai jumpa lagi, ya."

"...Ya. Sampai jumpa."

Kami mengucapkan selamat tinggal, dan melambaikan tangan kecil kami.

Ada rasa diam-diam, karena kami sebenarnya enggan berpisah, meskipun tidak diucapkan.

—Menyadari itu, aku menggenggam pergelangan tangan Ayai.

"Eh? Irido-kun—"

Aku mendekat ke Ayai, dan sedikit membungkuk.

Kami berdua terpaksa terdiam.

Ketika aku menegakkan punggung lagi, wajah Ayai memerah karena alasan yang berbeda dari dingin, dan dia mengedipkan matanya karena terkejut.

"...Yah, karena ini Natal."

Kataku, seolah mencari alasan.

Ayai tersenyum kecil.

"Benar, ya. ...Karena ini Natal."

Kali ini, Ayai yang sedikit berjinjit.

Ketika tumitnya kembali menyentuh tanah, kami saling melempar senyum tipis, dan akhirnya berpisah.

Hubungan kami, saat ini belum ada yang tahu.

Suatu saat, pasti akan ada waktu untuk memberi tahu Ayah. Aku sama sekali tidak menyangkanya enam bulan lalu bahwa acara memperkenalkan pacar kepada keluarga akan terjadi dalam hidupku.

Dalam perjalanan pulang sendirian, kalung itu bergoyang di dadaku.

Natal setahun dari sekarang, akankah kami bisa bertemu secara terbuka?

Mungkinkah kami akan berkumpul di salah satu rumah dan duduk di meja yang sama?

Hadiah apa yang akan kuberikan kali ini?

"...Harus mulai memikirkannya dari sekarang, ya."

Tepat 365 hari dari hari ini.

Aku sudah menantikan hari itu.

***

—Yah, satu tahun kemudian kami sudah putus, sih.

"Semua itu fana ya..."

Aku mengeluarkan kalung yang sudah lama tersimpan di laci meja untuk pertama kalinya, dan aku yang sudah menjadi siswa SMA kelas satu, merenungkan hukum alam.

Setelah itu, selama beberapa waktu, di antara aku dan dia, menjadi tren untuk saling menemukan hadiah masing-masing di leher kami, lalu tertawa kecil penuh makna. Karena itu, kami sengaja menyembunyikannya di balik kerah atau syal agar sulit disadari.

Sekarang, mungkin dia tidak akan menyadarinya. Bahkan, jangan-jangan liontin yang kuberikan sudah dibuang saat dia pindah rumah, si perempuan itu.

"...haruskah kucoba lagi?"

Jika dia tidak menyadarinya, itu membuktikan kebenaran dugaanku. Jika dia menyadarinya, itu akan menghasilkan reaksi yang menarik.

Karena tertarik, aku mengenakan kalung itu, menyembunyikan hiasan berbentuk bulu di balik pakaianku, dan keluar dari kamar.

Aku pikir akan bertemu dengannya saat mau mandi—tapi,

"Ah."

"Ah."

Tepat setelah membuka pintu, kami langsung bertemu di koridor lantai dua.

Itulah Irido Yume, siswi SMA kelas satu yang sudah lebih tinggi dan rambutnya lebih panjang.

Begitu melihatnya, aku langsung menyadarinya.

Rantai liontin yang familiar berkilauan di antara rambut hitamnya—

"...Hee."

"...Fuuun."

Hanya itu yang kami ucapkan satu sama lain.

Kami menuruni tangga tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Saat kami masuk ke ruang tamu, drama yang tayang saat makan malam sudah berakhir. Ayah duduk di meja makan, dan Yuni-san sedang memasukkan piring ke mesin pengering di dapur.

"Oh, Mizuto. Mau mandi?"

"Mizuto-kun, kalau kamu mau mandi duluan, silakan suit dengan Yume, ya!"

Keduanya sama sekali tidak menyadari perubahan kecil pada kami.

Kami menjawab seadanya kepada orang tua masing-masing, lalu duduk di sofa di depan TV, menyisakan satu celah di antara kami, dan membuka buku yang kami bawa dari kamar tanpa bicara.

"...Fufufu."

Yume tiba-tiba tersenyum.

"Ada apa?"

Tanyaku sambil tetap menatap buku, dan

"kita tidak sehati, ya,"

Jawab Yume, juga tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"...Begitulah,"

Jawabku, dan kembali membaca.

Bukuku adalah A Christmas Carol, dan buku Yume adalah Hercule Poirot's Christmas.


Penerjemah: Janaka

Post a Comment

Previous Post Next Post


Support Us